Kamis, 15 Januari 2015

CONTOH KASUS PRASANGKA

Kasus Diskriminasi yang Terjadi Dalam Dunia Pendidikan
Diskriminasi Menurut Kemampuan

1. Diskriminasi Menurut Kemampuan Fisik

Di sebuah SD negeri di Palangkaraya seorang calon siswa dinyatakan tidak dapat diterima di sebuah sekolah karena menderita cacat fisik. Padahal dari hasil tes masuk,  calon siswa tersebut mendapatkan nilai yang cukup tinggi dan kecacatannya tidak mengganggu aktivitas belajarnya.

2. Diskriminasi Menurut Kemampuan Akademik

Selanjutnya, kasus yang terjadi di Pangkalan Bun, seorang calon siswa yang sudah berumur tujuh tahun tidak dapat diterima di sebuah sekolah dasar karena tidak lulus tes skolastik. Padahal ada calon siswa yang berumur lebih muda akan tetapi diterima di sekolah tersebut karena lulus tes skolastik. Padahal dalam pelaksanaan wajib belajar di Indonesia, seleksi penerimaan siswa baru sekolah dasar didasarkan pada usia anak. Banyak pihak memprotes kebijakan tersebut, namun pihak sekolah berkelit bahwa sekolah dasar tersebut adalah sekolah percontohan dan sekolah favorit.

Diskriminasi dalam bentuk lain adalah pembagian kelas menjadi kelas unggulan  dan non unggulan (terjadi pada banyak sekolah termasuk sekolah penulis sendiri, yakni SMPN 2 Jombang). Siswa-siswa yang memiliki kemampuan akademis tinggi dimasukkan kedalam kelas unggulan, sedangkan siswa-siswa yang kemampuan akedemisnya rata-rata dimasukkan kedalam kelas non unggulan. Perlakuan diskriminan seperti ini akan menimbulkan efek rendah diri pada diri anak-anak yang termasuk kedalam kelas non unggulan (reguler) dan akan menimbulkan perasaan tinggi hati pada diri anak-anak yang masuk kedalam kelas unggulan. Perlakuan diskriminan seperti itu membuat guru yang mengajar di kelas unggulan merasa nyaman mengajar di kelas tersebut, dan akan merasa terbebani jika mengajar di kelas non unggulan. Hal ini akan mengakibatkan perlakuan yang berbeda terhadap siswa kelas unggulan dan siswa kelas non unggulan. Siswa kelas unggulan akan cenderung lebih disayang, diperhatikan dan diutamakan, sedangkan siswa dari kelas non unggulan sering kali dipandang sebelah mata oleh para guru pengajar. Efek lanjutan yang lebih parah akan terjadi ketika keadaan seperti ini terus berlanjut pada kenaikan kelas,  siswa yang memiliki kemampuan akademis tinggi tetap di kelas unggulan dan siswa yang memiliki kemampuan akademis rata-rata tetap di kelas non unggulan, pasti akan terjadi kesenjangan antara kedua kelompok sosial dalam sekolah ini. Dan yang lebih parah lagi adalah, ketika anak-anak meyakini bahwa setiap manusia terlahir berbeda, hal ini yang akan menyebabkan anak-anak melakukan tindakan diskriminatif ketika mereka tumbuh menjadi dewasa nanti.

3. Diskriminasi Menurut Keadaan Ekonomi

Lalu, pendiskriminasian yang telah dilakukan sekolah pada siswanya adalah pendiskriminasian menurut kemampuan ekonomi. Hal ini terjadi pada Siti Maesaroh, siswi sebuah SMA Negeri di daerah Cicalengka, sudah beberapa kali dia dan beberapa temannya yang berasal dari keluarga miskin dibariskan di lapangan basket, para siswa ini diperingatkan bahwa, sebelum mereka membayar uang SPP, mereka tidak dapat mengikuti ujian semester. Dari sini jelas terlihat bahwa pendidikan tidak lagi berorientasi pada upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, namun pendidikan telah berganti menjadi komoditas ekonomi yang siap diperjualbelikan, sesuai harga yang disepakati.

Diskriminasi Oleh Pemerintah 
1. Pembangunan Sekolah Bertaraf Internasional

Pembangunan atau pengadaan sekolah bertaraf internasional dan sekolah percontohan. Sekolah RSBI adalah sekolah-sekolah yang hanya menerima siswa yang memiliki kemampuan akademis di atas rata-rata dan kemampuan ekonomi yang diatas rata-rata. Pemerintah dengan sadar memberikan dana yang sangat besar kepada sekolah-sekolah RSBI (Rintisan Sekolah Berstandar Internasional) dan sekolah percontohan. Sekolah-sekolah RSBI ini mendapatkan dana yang sangat besar dari pemerintah yakni berkisar pada jumlah dua milyar rupiah setiap tahun diluar gaji guru. Berdasarkan besarnya dana yang diterima dapat dipastikan bahwa anak-anak yang bersekolah di sekolah RSBI mendapatkan fasilitas yang lebih daripada anak-anak yang bersekolah di sekolah regular. Anak-anak yang bersekolah di sekolah regular akan merasa sebagai anak-anak kelas dua. Selain itu, terjadi kesenjangan antara sekolah yang berada di perkotaan dengan sekolah pinggiran. Disaat sekolah-sekolah perkotaan berlomba-lomba membangun bangunan sekolahnya semegah mungkin karena mendapatkan dana yang besar dari pemerintah, sekolah-sekolah pinggiran malah terancam roboh karena gedung yang sudah tua dan genting-genting yang bocor.

2. Pelaksanaan Ujian Nasional

Pelaksanaan UN (Ujian Nasional) telah membuat guru-guru matapelajaran non-UAN merasa terdiskriminasi. Hal ini terbukti dengan berkumpulnya guru-guru matapelajaran sejarah beberapa waktu lalu di Jakarta dan membuat pernyataan bahwa, minat peserta didik mereka tidak berminat pada pelajaran sejarah kaerna pelajaran sejarah tidak masuk pada mata pelajaran yang diujikan pada UN. Peristiwa ujian nasional, akan menimbulkan kesan bahwa, ada guru-guru matapelajaran tertentu yang merasa diabaikan dan ada guru-guru matapelajaran tertentu yang merasa sangat dibutuhkan. Akhirnya jika hal ini tidak ditangani dengan bijaksana oleh para guru maka hanya akan menjadi pertikaian yang terjadi antar guru.

Selain membuat beberapa guru matapelajaran cemburu terhadap beberapa guru matapelajaran lain. UN juga telah melakukan hak-hak asasi siswa di daerah pedalaman. Dengan fasilitas yang berbeda dengan yang dinikmati siswa-siswa yang berada di perkotaan, siswa-siswa dituntut untuk mengerjakan soal yang sama dengan yang dikerjakan siswa-siswa di daerah perkotaan yang memiliki fasilitas yang lebih lengkap daripada siswa-siswa yang berada di pedalaman. Selain itu, siswa di daerah terpencil juga dituntut untuk memenuhi nilai minimal standar kelulusan. Pemerintah dan Dinas Pendidikan seolah tidak mau tahu dengan terbatasnya fasilitas yang dimiliki oleh sekolah-sekolah di daerah terpencil.           

Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Kasus Diskriminasi Yang Terjadi Dalam Dunia Pendidikan

Banyak hal yang bisa mendasari terjadinya diskriminasi dalam dunia pendidikan. Kemampuan fisik, akademik, dan ekonomi merupakan tiga aspek yang paling sering terjadi diskriminasi. pada sekolah-sekolah yang menjadi sekolah percontohan, kemampuan fisik dan akademik sangat diperhatikan.
Berikut ini adalah penyebab-penyebab terjadinya diskriminasi terhadap siswa yang memiliki keterbatasan fisik:

     1.    Anggapan yang salah tentang siswa-siswa yang memiliki keterbatasan fisik.
Pada dunia pendidikan anak-anak yang memiliki cacat fisik selalu dinomor duakan. Siswa yang memiliki keterbatasan fisik tidak dapat menempuh pendidikannya di sekolah umum, melainkan harus di sekolah luar biasa. Padahal untuk kekurangan fisik tertentu seorang siswa masih bias mengikuti pelajaran sama dengan anak-anak yang normal. Sekolah salah dalam menilai anak yang memiliki keterbatasan fisik selalu dan pasti akan mengalami kesulitan dalam mengikuti pelajaran.

     2.    Pembiaran masyarakat
Saat terjadi diskriminasi terhadap anak-anak yang memiliki keterbatasan kemampuan fisik, masyarakat memaklumi tindakan sekolah, karena merasa hal tersebut sudah biasa terjadi. Padahal, jika hal ini dibiarkan terus terjaadi, anak-anak yang memiliki keterbatasan kemampuan fisik ini akan merasa terdiskriminasi selamanya dan merasa bahwa pendidikan tidak lagi bisa menjebatani kekurangan fisik yang dimilikinya dengan dunia luar.

     3.     Sekolah Yang Cenderung Menjaga Nama Baik
Pada kasus yang terjadi Palangkaraya jelas terlihat bahwa sekolah hanya peduli dengan nama baik sekolah tersebut, tanpa mempedulikan apa sebenarnya fungsi dari sekolah itu sendiri. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat dimana anak bisa mengekspresikan apa yang ada dalam pikiran mereka, malah berubah menjadi sebuah tempat yang mengkotak-kotakkan anak berdasarkan kemampuan fisik.

Berikut Ini Merupakan Penyebab Terjadinya Diskriminasi Menurut Kemampuan Akademis:

Pada kasus pertama, yaitu seorang anak yang berusia tujuh tahun karena tidak diterima karena tidak berhasil lulus tes, namun ada seorang anak yang berusia kurang dari enam tahun yang berhasil diterima karena lulus tes, memiliki penyebab-penyebab sebagai berikut:
            Pada kasus kedua tentang pembagian kelas unggulan dan non unggulan, memiliki penyebab-penyebab sebagai berikut:

     1.    Terjadi kesalahan penafsiran tentang anak pandai dan anak bodoh
Sekolah atau pun orangtua sering salah menafsirkan antara anak pandai dengan anak bodoh. Selama ini system pendidikan di Indonesia selalu memandang seseorang pandai atau bodoh berdasarkan nilai. Padahal, ada delapan aspek kecerdasan yang dimiliki masing-masing anak. Selama ini sekolah selalu mengidentikkan seorang anak yang selalu mengikuti pelajaran dan mendapatkana nilai bagus merupakan anak pandai, dan sebaliknya anak yang nakal dan mendapatkan nilai buruk adalah anak yang bodoh.

     2.     Adanya keinginan dari pihak sekolah untuk meningkatkan citra sekolah
Sekolah beranggapan bahwa, jika anak-anak yang memiliki kemampuan diatas rata-rata dibiarkan berada dalam kelas regular, mereka akan kehilangan daya saing mereka. Mereka akan mudah meremehkan pelajaran, karena di kelas non unggulan persaingan tidak terlalu ketat. Kelas unggulan akan sangat bermanfaat bagi peningkatan citra sekolah, karean hasil dari kelas unggulan ini berhasil bersaing dengan sekolah-sekolah lain atau bahkan menjadi yang terbaik di daerahnya.

      3.     Keinginan dari para siswa
Siswa yang memiliki kemampuan akademis lebih tinggi daripada yang lain, cenderung menginginkan berada pada tempat yang berbeda pula dengan yang memiliki kemampuan akademik rata-rata. Mereka beralasan bahwa mereka jenuh jika harus menunggu teman-temannya yang lain yang belum bisa. Padahal jika siswa yang memiliki kemampuan akademik lebih tinggi daripada yang lain dapat menyalurkan kelebihannya kepada siswa lain yang kemampuan akademisnya rata-rata.

     4.     Keinginan guru
Guru menginginkan kemudahan dalam bekerja. Untuk mencapai keinginan tersebut dibentuklah kelas unggulan yang berisikan siswa-siswa cerdas yang dapat dengan mudah menangkap apa yang diajarkan oleh guru. Guru menganggap mengajar di kelas unggulan sebagai berkah dan menganggap mengajar di kelas non unggulan sebagai musibah. Pada akhirnya, guru akan lebih memperkatikan siswa-siswa yang berada di kelas unggulan daripada di kelas non unngulan.

Penyebab Terjadinya Diskriminasi Menurut Kemampuan Ekonomi :

     1.     Sekolah bukan lagi tempat mencari ilmu
Sekolah yang dahulunya merupakan tempat mencari ilmu yang menerapkan prinsip memberi dengan ikhlas, telah berubah menjadi sebuah momok bagi anak-anak miskin yang tidak memiliki biaya untuk membayar sekolah. Pendidikan telah menjadi barang dagangan yang tidak dapat ditawar. Bahkan banyak anak-anak miskin yang sekarang sudah mulai putus asa dengan system pendidikan di Indonesia. Mereka mulai berpikir bahwa pendidikan hanya untuk anak dari keluarga kaya. Mengharap pendidikan yang layak bagi mereka, sama halnya dengan mimpi-mimpi kosong.
      
     2.     Tidak adanya bantuan dari pemerintah
Kepada siapa lagi anak-anak miskin harus meminta bantuan, jika tidak kepada pemerintah. Pemerintah yang sebenarnya dapat memberikan bantuan kepada siswa-siswa miskin malah menghambur-hamburkan uang untuk pembangunan sekolah-sekolah RSBI.

 Latar Belakang Terjadinya Diskriminasi Oleh Pemerintah :

     1.     Kesenjangan yang terjadi antara sekolah RSBI dengan sekolah biasa
Pembangunan sekolah RSBI hanya dipusatkan pada daerah kota, sedangkan daerah pinggiran dibiarkan saja. Hal inilah yang lantas memicu perasaan terdiskriminasinya siswa-siswa yang bersekolah di sekolah pinggiran, meningat begitu banyak fasilitas yang diberikan pemertintah kepada sekolah berstatus RSBI.
     
      2.     Keinginan pemerintah untuk memajukan pendidikan di Indonesia
Tidak ada yang salah dengan niat pemerintah untuk memajukan pendidikan di Indonesia melalui sekolah-sekolah RSBI, namun perlu diingat pula masih banyak sekolah-sekolah yang perlu diperhatikan pemerintah sebelum mengurusi sekolah-sekolah RSBI tersebut.

3.    Keinginan pemerintah untuk memeratakan pendidikan di seluruh wilayah Indonesia. UN merupakan evaluasi belajar selama tiga tahun yang diselenggarakan secara serentak oleh Negara di seluruh pelosok negeri. Soal-soal ujian nasional sama, namun proses pembelajaran yang telah dilaksanakan selama tiga tahun tidaklah sama. Di daerah terpencil keadaan pembelajarannya berbeda dengan di daerah perkotaan. Jadi tidak adil apabila semua soal dipukul sama rata.

Solusi untuk Mengatasi Diskriminasi yang Terjadi Dalam Dunia Pendidikan :
     i. Diadakan tes kesiapan fisik dalam mengikuti proses pembelajaran (untuk siswa yang memiliki kekurangan fisik)

      ii. Sekolah tidak lagi memikirkan tentang citra sekolah, namun dapat lebih menyadari bahwa anak-anak yang memiliki keterbatasan fisik juga berhak bersekolah di sekolah umum

      iii.  Guru diharapkan tidak melakukan tindakan-tindakan yang berbau diskriminasi terhadap siswa yang memiliki keterbatasan fisik dan dapat membina siswa tersebut sehingga siswa tersebut tidak merasa rendah diri

      iv. Mengacu kembali pada peraturan UU SISDIKNAS No.20 Th.2003 tentang tata cara penerimaan murid baru

     v. Menghentikan diadakannya tes kematangan (skolastik), untuk menghindari adanya pihak-pihak yang dirugikan karenanya

     vi. Menghentikan pembagian kelas menurut kemampuan akademik

     vii. Mencampur adukkan siswa-siswa yang memiliki kemampuan akademik diatas rata-rata dengan siswa-siswa yang memiliki kemampuan akademik rata-rata

     viii. Tidak mengistimewakan siswa yang memiliki kemampuan akademis diatas rata-rata dan tidak merendahkan anak yang kemampuan akademisnya rata-rata

     ix.  Setiap sekolah mengadakan program beasiswa untuk siswa yang tidak mampu

     x.  Pemerintah menginstruksikan kepada sekolah-sekolah untuk membebaskan uang SPP dan  uang gedung bagi siswa yang tidak mampu

     xi. Mengurangi dana yang diberikan kepada sekolah-sekolah RSBI

     xii. Lebih memperhatikan sekolah-sekolah pinggiran

     xiii. Meniadakan UN

     xiv. Menggantikan UN dengan ujian sekolah, yang semua soalnya dibuat sendiri oleh guru-guru dari sekolah tersebut

     xv.  Mengikut sertakan semua matapelajaran ke dalam ujian sekolah pengganti UN

     xvi. Menentukan sendiri nilai minimal yang wajib diperoleh siswa

Sumber : http://teacher-is-mydestiny.blogspot.com/2012/01/diskriminasi-dalam-dunia-pendidikan.html

Selasa, 28 Oktober 2014

MASALAH SOSIAL RASISME


Rasisme memiliki arti suatu sistem kepercayaan atau doktrin yang menyatakan bahwa perbedaan biologis yang melekat pada ras manusia menentukan pencapaian budaya atau individu, bahwa suatu ras tertentu lebih superior dan memiliki hak untuk mengatur yang lainnya. Manusia sebagai makhluk sosial, terkadang dalam memandang hubungannya dengan manusia lainserasa dibatasi oleh sekat-sekat perbedaan secara fisik. Hal ini wajar karena manusia dilahirkandengan membawa gen bawaannya masing-masing. Namun apabila dari perbedaan ini sampai memunculkan prasangka, walhasil bisa mengakibatkan fungsi bermasyarakat kita menjadi terganggu. Apapun nama dan bentuk dari prasangka ini, kesemuanya bermuara pada apa yang disebut rasisme. 

Rasisme berdiri tidak hanya dalam barisan yang kuat, akan tetapi rasisme juga tertanam dalam kaum yang lemah. Jika yang kuat menindas yang lemah karena mereka memiliki basis kekuasaan maka yang lemah akan melakukan perlawanan secara diam-diam. Jadi jelaslah bahwa  rasisme ada di antara kita.

Di Indonesia masih ada pada sebagian masyarakat di Negara kita yang berperilaku rasis, meskipun tindakan rasis yang ditujukan bukan pada warna kulitnya, namun lebih kepada penghinaan terhadap daerah asal, silsilah, nama maupun status sosial.

Contoh paling sahih adalah kata “kampungan” yang sering kita dengar di sinetron televisi. Kata kampungan disini berarti penghinaan terhadap orang desa, dan dianggap tidak memiliki norma kehidupan standar perkotaan. Sebagai orang yang lahir, tumbuh, besar, dan mencari penghidupan di desa tentu saya sangat miris dan tersayat hatinya bila mendengar kata tersebut disebutkan dalam adegan sinetron. Walaupun itu hanya adegan dalam sebuah sinetron tapi pengaruh kata “kampungan” yang ditimbulkan televisi sangat luas dan bisa mempengaruhi perkembangan anak khususnya anak di pedesaan. Mereka akan berada dalam situasi minder dan tidak memiliki kepercayaan diri sehingga ‘nrimo’ saja dengan keadaan dan cap kampungan yang sudah terlanjur melekat seperti dalam adegan sinetron. Pengaruh buruk juga bisa terjadi untuk anak di perkotaan, bagaimana mereka tidak akan memiliki kepekaan terhadap sesama dan lingkungan sekitarnya karena beranggapan lebih superior dibandingkan dengan anak di pedesaan. Tentu akan seperti apa generasi mereka ketika telah dewasa.

Isu rasisme juga berdampak kepada eksklusi sosial kepada orang atau kelompok tertentu. Dimana orang atau kelompok tertentu tersebut menjadi terbatas aksesnya akibat isu rasisme. Sehingga bisa dikatakan bahwa isu rasisme hanya akan menjadi hal yang serius jikalau telah membatasi akses seseorang atau kelompok tertentu.

Faktor Penyebab Rasisme
                Budaya dan adat istiadat setiap bangsa ataupun negara berbeda beda sehingga mempengaruhi pola pikir dan pemahaman apa dan maksud sentimen ras / suku / etnis, yang pada akhirnya tentu akan mempengaruhi kultur dan paradigma penanganan dalam hukum acara. Ada negara yang menolerir pakaian sexy atau berbugil ria, tetapi ketika ada yang sekedar bersiul memuji atau menggoda, sudah dapat dikategorikan sebagai pelecehan seksual dan bisa dipidana.  Tentu tidak semua negara sama dalam penerapannya, kadang kadang perkosaan bisa dianggap perzinahan, bahkan ada yang lebih ekstrem dengan mengkategorikan duduk mengangkang sebagai pertanda mau mesum atau berpakaian sexy sebagai layak diperkosa sehingga kategori perbuatan juga akan berbeda hukumannya.

Kembali ke masalah rasialisme atau rasisme, sentimen akan terjadi oleh berbagai faktor dan kepentingan. Bisa saja karena faktor ketidak adilan ataupun akibat persamaan di mata hukum yang dianggap timpang, seperti yang terjadi saat kerusuhan LA puluhan tahun lalu akibat penangkapan penjahat dengan kekerasan yang sempat direkam. Bisa juga masalah kriminalitas berbungkus masalah hukum akibat pengangguran dan kesenjangan sosial seperti yang terjadi di Inggris tahun lalu, Burma dan Perancis.

Solusi Penanggulangan Permaasalahan Rasisme
            Sebagai mahasiswa saya menyarankan agar masyarakat lebih menghargai perbedaan yang ada. Perbedaan diciptakan bukan untuk saling mengucilkan satu sama lain, tetapi untuk membuat orang saling berbagi/membantu karena pada hakikatnya manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan. Mencoba untuk menerima kekurang pada diri sendiri mungkin bisa menjadi langkah awal untuk tidak besikap rasisme.

Sumber : 
http://brianbie.wordpress.com/2013/11/23/masalah-rasis-yang-tidak-pernah-hilang/
http://media.kompasiana.com/new-media/2013/01/25/rasialisme-atau-rasisme--522825.html


Senin, 30 Juni 2014

Semester Terakhir Dimana Skala Prioritas Tak Berlaku

            Saya merupakan salah satu mahasiswa Universitas Gunadarma jurusan D3-Manajemen Informatika, saat ini saya sedang menempuh semester terakhir yaitu semester 6. Berbeda dari beberapa universitas yang ada di Universitas Gunadarma kami mahasiswa semester memiliki kewajiba untuk membuat Penulisan Ilmiah. Saat sedang ingin berfokus ke penulisan ilmiah saya mendapatkan tugas softskill yang sangat berbeda dari sebelumnya.
            Menapa berbeda? Karena tugas kali ini yang diberikan Ibu Kartika Sari selaku dosen “Terapan Komputer Perbankan” membuat penelitian dengan metode TAM yang harus menggunakan data dari hasil kuisioner. Setiap pertemuannya selalu diminta untuk mempresentasikan tugas yang telah diberikan setiap babnya . Sungguh berbeda cara ibu dosen ini karena biasa saya hanya mendengarkan dosen berbicara akan tugas yang diberikan untuk di upload ke blog dan di posting ke studentsite saja.
            Tanggal 24 Juni 2014 adalah saat tugas itu harus dikumpulkan,sesungguhnya tugas ini saya abaikan karena banyak tugas yang ada disemester ini. Semua tugas sangat penting ditambah dengan penulisan ilmiah yang ada, skala prioritas tak berlaku untuk semester ini. Semua mempunyai nilai yang penting untuk semester ini.
            Saya jam 8 pagi sudah berada dikampus untuk mengumpulkan tugas softskill. Saya langsung menuju ruangan E52, disana ternyata sudah ada teman saya yang sudah lebih dahulu datang. Untuk mengumpulkan tugas hanya boleh 2 orang masuk secara bergantian dan sisanya menunggu diluar. Stelah cukup lama menunggu saya dapat kabar bahwa yang belum mengumpulkan tugas harus dating lagi nanti siang jam setengah 3 sore. Dikarena ibunya ada keperluan yang lain, cukup kecewa saat itu saya.
            Sesuai waktu yang telah disepakti saya dan teman-teman saya yang lain menuju keruangan E52 kembali. Masih tetap sama yang diperbolehkan masuk 2 orang bergantian. Saya menunggu dengan yang lain hingga mendapat giliran sama masuk bersam amar dan maulana dan saat itu waktu sudah menunjukan pukul 5 sore. Saat masuk kami sudah diberikan pertanyaan oleh ibu dosen “Kalian copas juga kan?” kami pun menjawab “iya bu” sambil senyum-senyum malu. Ibu Kartika sebenarnya kecewa namun masih memberikan kami kesempatan untuk membuat sebuah artikel dari tugas makalah yang kami buat untuk memperbaiki nilai.

            Makalah penelitian saya berjudul “PENGGUNAAN MOBILE BANKING DI KALANGAN MAHASISWA DAERAH CINJANTUNG DAN SEKITARNYA” dengan menggunkan teori Technology Acceptance Model (TAM). Dalam penelitian saya mengambil sampel sebanyak 30 responden. Berikut grafik grafik penelitian: 





Berikut uraian hasil tanggapan responden mengenai M-Banking dengan pendekatan Tecnology Acceptance Model (TAM) yaitu:
        1.      Perceived Usefulness
        Berikut pertanyaan kuisioner dari Perceived usefulness :




Pada grafik diatas setuju 30 responden


Pada grafik diatas ragu-ragu 4 responden, setuju 23 responden dan sangat setuju 3 responden


Pada grafik diatas ragu-ragu 5 responden dan setuju 25 responden

Pada grafik diatas ragu-ragu 4 responden, setuju 25 responden dan sangat setuju 1 responden

      Keterangan:
      F = Jumlah Responden                        3 = Ragu-ragu
      1 = Sangan Tidak Setuju                     4 = Setuju
      2 = Tidak Setuju                                 5 = Sangat Setuju


       2.      Perceived Ease of Use
       Berikut pertanyaan kuisioner dari Perceived Ease of Use : 


Pada grafik diatas tidak setuju 1 responden, ragu-ragu 13 responden dan setuju 16 responden

Pada grafik diatas ragu-ragu 17 responden dan setuju 13 responden

Pada grafik diatas tidak setuju 1 responden, ragu-ragu 9 responden dan setuju 20 responden

      Keterangan:
      F = Jumlah Responden                        3 = Ragu-ragu
      1 = Sangan Tidak Setuju                     4 = Setuju
      2 = Tidak Setuju                                 5 = Sangat Setuju


      3.      Attitude Toward Using
      Berikut pertanyaan kuisioner dari Attitude Toward Using :



Pada grafik diatas tidak setuju 1 responden, ragu-ragu 17 responden dan setuju 12 responden

Pada grafik diatas tidak setuju 1 responden, ragu-ragu 9 responden, setuju 18 responden dan sangat setuju 2 responden

Pada grafik diatas tidak setuju 1 responden, ragu-ragu 15 responden dan setuju 14 responden

Pada grafik diatas tidak setuju 1 responden, ragu-ragu 8 responden, setuju 20 responden dan sangat setuju 1 responden


      Keterangan:
      F = Jumlah Responden                        3 = Ragu-ragu
      1 = Sangan Tidak Setuju                     4 = Setuju
      2 = Tidak Setuju                                 5 = Sangat Setuju


      4.      Actual Usage
      Berikut pertanyaan kuisioner dari Actual Usage :


Pada grafik diatas tidak setuju 3 responden, ragu-ragu 15 responden dan setuju 12 responden

Pada grafik diatas tidak setuju 2 responden, ragu-ragu 14 responden, setuju 13 responden dan sangat setuju 1 responden

     Keterangan:
     F = Jumlah Responden                        3 = Ragu-ragu
     1 = Sangan Tidak Setuju                     4 = Setuju
     2 = Tidak Setuju                                 5 = Sangat Setuju

Selajutnya kita mencari skor ideal : 
 

            a.      Perceived Usefulness
Skor ideal = 4*5*30 = 600

            b.      Perceived Ease of Use
            Skor ideal = 4*5*30 = 600

            c.       Attitude Toward Using
            Skor ideal = 3*5*30 = 450

            d.      Actual Usage
            Skor ideal = 2*5*30 = 300

Demikian artikel ini saya buat, semoga artikel ini diterima oleh Ibu Kartika Sari selaku dosen "Terapan Komputer Perbankan" dan saya mendapatkan nilai A. Aamiin 
Terima kasih.

Jumat, 31 Januari 2014

4.4 SIKLUS KEUANGAN

Siklus ini memproses dua kejadian ekonomi, perolehan kapital dan penggunaan kapital untuk memperoleh pemilikan. Sistem aplikasi dalam siklus keuangan yaitu :

    ·         Sistem Pemilikan : Sistem berasal dari bahasa Latin (systēma) dan bahasa Yunani (sustēma) adalah suatu kesatuan yang terdiri komponen atau elemen yang dihubungkan bersama untuk memudahkan aliran informasi, materi atau energi untuk mencapai suatu tujuan, sedangkan kepemilikan adalah kekuasaan yang didukung secara sosial untuk memegang kontrol terhadap sesuatu yang dimiliki secara eksklusif dan menggunakannya untuk tujuan pribadi. Jadi sistem pemilikan adalah sebuah komponen atau elemen yang dimiliki secara eksklusif serta memegang kontrol terhadap sesuatu.

    ·        Sistem Catatan Jurnal. : pencatatan transaksi keuangan. Transaksi meliputi penjualan, pembelian, pendapatan, dan pengeluaran oleh perseorangan maupun organisasi. Pembukuan biasanya dilakukan oleh seorang ahli pembukuan.

    ·         Sistem Pelaporan Keuangan.  : Laporan keuangan adalah catatan informasi keuangan suatu perusahaan pada suatu periode akuntansi yang dapat digunakan untuk menggambarkan kinerja perusahaan tersebut. Laporan keuangan adalah bagian dari proses pelaporan keuangan. Laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi:

1.  Laporan neraca.
2.  Laporan laba/rugi.
3.  Laporan Perubahan Ekuitas.
4.   Laporan perubahan posisi keuangan yang dapat disajikan berupa Laporan arus kas atau Laporan arus dana.
5.  Catatan dan laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan.



4.3 SIKLUS PRODUKSI

Aktivitas Siklus Produksi
Siklus Produksi adalah rangkaian aktivitas bisnis dan operasi pemrosesan data terkait yang terus terjadi yang berkaitan dengan pembuatan produk.
Aktivitas-Aktivitas Siklus Produksi


Informasi akuntansi biaya yang akurat dan tepat waktu merupakan input penting dalam keputusan mengenai hal-hal berikut ini :
- Bauran produk
- Penetapan harga produk
- Alokasi dan perencanaan sumber daya (contoh apakah membuat atau membeli)
- Manajemen Biaya
- Ada empat aktivitas dasar dalam siklus produksi :
- Perancangan Produk
- Perencanaan dan Penjadwalan
- Operasi Produksi
- Akuntansi Biaya



Perancangan Produk (Aktivitas 1)
Langkah pertama dalam siklus produksi adalah Perancangan produk.
Tujuan aktivitas ini adalah untuk merancang sebuah produk yang memenugi permintaan dalam hal kualitas, ketahanan, dan fungsi, dan secara simultan meminimalkan biaya produksi.



Perencanaan dan Penjadwalan (aktivitas 2)
Langkah kedua dalam siklus produksi adalah perencanaan dan penjadwalan.
Tujuan dari langkah ini adalah mengembangkan rencana produksi yang cukup efisien untuk memenuhi pesanan yang ada dan mengantisipasi permintaan jangka pendek tanpa menimbulkan kelebihan persediaan barang jadi.



4.2 SIKLUS PENGELUARAN

Siklus Pengeluaran adalah rangkaian kegiatan bisnis dan operasional pemrosesan data terkait yang berhubungan dengan pembelian serta pembayaran barang dan jasa. Dalam SIA siklus pengeluaran, paling tidak terdapat empat sub sistem yang harus dirancang, yaitu: sistem pembelian, system penerimaan barang, system voucher, dan system pengeluaran kas

Tujuan utama dalam siklus pengeluaran adalah untuk meminimalkan biaya total memperoleh dan memelihara persediaan, perlengkapan, dan berbagai layanan yang dibutuhkan organisasi untuk berfungsi.

Sikklus Pengeluaran: Keputusan-keputusan penting

Berapakah tingkat optimal persediaan dan perlengkapan yang akan ditanggung?
Pemasok manakah yang memberikan kualitas dan layanan terbaik dengan harga terbaik ?
Dimanakah persediaan dan perlengkapan akan disimpan ?
Bagaimana cara organisasi mengkonsolidasi pembelian di lintas unit untuk mendapatkan harga yang optimal ?
Bagaimana TI dapat digunakan untuk meningkgatkan baik efisiensi maupun keakuratan fungsi logistik inbound ?
Apakah tersedia cukup kas untuk memanfaatkan diskon yang diberikan oleh pemasok ?
Bagaimana pembayaran ke vendor dapat dikelola untuk memaksimalkan arus kas ?
Apakah tiga aktivitas bisnis dasar dalam siklus pengeluaran ?
Memesan barang, Perlengkapan dan jasa (layanan)
Menerima dan menyimpan barang, Perlengkapan dan jasa (layanan)
Membayar barang, Perlengkapan dan jasa (layanan)
Memesan barang, Perlengkapan dan jasa (layanan)
Aktivitas utama pertama dalam siklus pengeluaran adalah memesan persediaan atau perlengkapan.

Metode pengendalian persediaan tradisional ini sering disebut: kuantitas pesanan ekonomis [EOQ]):

Pendekatan ini didasarkan pada perhitungan jumlah optimal pesanan untuk meminimalkan jumlah biaya pemesanan, penggudangan dan kekurangan persediaan.
Pendekatan ini bertujuan mengurangi tingkat persediaan yang dibutuhkan dengan cara menjadwalkan produksi, bukan memperkirakan kebutuhan.
Sistem JIT berusaha untuk meminimalkan, jika bukan menghilangkan, baik biaya penggudangan maupun kekurangan persediaan.
Pesanan pembelian adalah sebuah dokumen atau formulir elektronis yang secara formal meminta pemasok untuk menjual dan mengirimkan produk yang disebutkan dengan harga yang telah ditentukan.
Pesanan pembelian juga merupakan janji untuk membayar dan menjadi sebuah kontrak begitu pemasok menyetujuinya.
Sering kali, beberapa pesanan pembelian dibuat untuk memenuhi satu permintaan pembelian.
Menerima dan menyimpan barang, Perlengkapan dan jasa (layanan)
Aktivitas bisnis utama kedua dalam siklus pengeluaran adalah penerimaan dan penyimpanan barang yang dipesan.

Metode-metode pengendalian persediaan alternatif :

MRP (material requirement planning)
JIT (just in time)

Apakah perbedaan utama antara Materials requirements planning (MRP) dan Just-In-Time (JIT) ?

Sistem MRP menjadwalkan produksi untuk memenuhi perkiraan kebutuhan penjualan, sehingga menghasilkan persediaan barang jadi.
Sistem JIT menjadwalkan produksi untuk memenuhi permintaan pelanggan, sehingga secara nyata meniadakan persediaan barang jadi.

Memesan barang, Perlengkapan dan jasa (layanan)
Dokumen-dokumen dan prosedur-prosedur:

Permintaan pembelian adalah sebuah dokumen yang mengidentifikasikan berikut ini :

Peminta dan mengidentifikasi nomor barang
Menspesifikasikan lokasi pengiriman dan tanggal dibutuhkan
Deskripsi, jumlah barang, dan harga setiap barang yang diminta
Dan dapat berisi pemasok yang dianjurkan

Memesan barang, Perlengkapan dan jasa (layanan)
Apakah keputusan penting itu ?
Menetukan pemasok (vendor)

Faktor-faktor apakah yang harus dipertimbangkan dalam membuat kieputusan ini ?
Harga, kualitas bahan baku
Dapat diandalkan dalam melakukan pengiriman

Dokumen-dokumen dan prosedur-prosedur:
Keputusan-keputusan penting dan kebutuhan-kebutuhan informasi:

Bagian penerimaan mempunyai dua tanggung jawab utama:

Memutuskan apakah menerima pengiriman
Memeriksa jumlah dan kualitas barang

Dokumen-dokumen dan prosedur-prosedur:

Laporan penerimaan adalah dokumen utama yang digunakan dalam subsistem penerimaan dalam siklus pengeluaran, laporan ini mendokumentasikan rincian mengenai: setiap kiriman, termasuk tanggal penerimaan, pengiriman, pemasok, dan nomor pesanan pembelian.

Bagi setiap barang yang diterima, laporan ini menunjukkan nomor barang, deskripsi, unit ukuran, dan jumlah barang yang diterima.

Membayar barang dan jasa (layanan): Menyetujui Faktur Pemasok
Aktivitas utama ketiga dalam siklus pengeluaran adalah menyetujui faktur penjualan dari vendor untuk pembbayaran.

Bagian utang usaha menyetujui faktur penjualan untuk dibayar
Kasir bertanggung jawab untuk melakukan pembayaran

Tujuan utang usaha adalah untuk mensahkan pembayaran hanya untuk barang dan jasa yang dipesan dan benar-benar diterima.

Ada dua cara untuk memproses faktur penjualan dari vendor :
Sistem tanpa voucher
Sistem Voucher

Membayar barang dan jasa (layanan): Memperbaiki Utang Usaha
Pemrosesan efisiensi dapat diperbaiki dengan:

Meminta para pemasok untuk memberikan faktur secara elektronis, baik melalui EDI atau melalui Internet
Penghapusan faktur vendor (pemasok). Pendekatan tanpa faktur ini disebut Evaluated Receipt Settlement (ERS).
Membayar Barang: Membayar faktur penjualan yang telah disetujui
Kasir menyetujui faktur
Gabungan dari faktur vendor dengan dokumen pendukungnya disebut : Bundel voucher.
Keputusan penting dalam proses pengeluaran kas adalah menetapkan apakah akan memanfaatkan diskon yang ditawarkan untuk pembayaran awal.
Fungsi ketiga dari SIA adalah menyediakan informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan.
Kegunaan dalam siklus pengeluaran berarti bahwa SIA harus memberikan informasi operasional yang dibutuhkan untuk melakukan fungsi-fungsi berikut ini :


Kebutuhan Informasi
– Menetapkan kapan dan seberapa banyak tambahan persediaan yang akan dipesan.

– Memilih pemasok yang tepat untuk pesanan.

– Memverifikasi akurasi faktur dari vendor.

– Memutuskan apakah diskon pembelian harus dimanfaatkan.

– Mengawasi kebutuhan arus kas untuk membayar kewajiban yang belum diselesaikan.

Sebagai tambahan, SIA harus memberikan informasi evaluasi strategis dan kinerja berikut ini:

– Efisiensi dan efektivitas bagian pembelian

– Analisis kinerja pemasok, seperti pengiriman tepat waktu dan kualitas.

– Waktu yang digunakan untuk memindahkan barang dari area penerimaan ke produksi.

– Persentase diskon pembelian yang dimanfaatkan.

Siklus Pengeluaran

Hutang Dagang

Pengendalian: Tujuan, Ancaman, dan Prosedur
Fungsi lain SIA yang dirancang dengan baik adalah untuk memberikan pengendalian yang cukup untuk memastikan bahwa tujuan-tujuan berikut terpenuhi:
Transaksi-transaksi diotorisasi dengan tepat.
Transaksi-transaksi dicatat dengan valid.
Valid, otorisasi transaksi dicatat.
Transaksi dicatat secara akurat.
Ø Aset (Kas, persediaan, dan data) diamankan (dijaga) dari kehilangan atau pencurian.
Ø Aktivitas bisnis dilakukan secara efisien dan dengan efektif.
Ø Apakah ancaman-ancaman itu ?

– Mencegah kehabisan &/atau keleihan persediaan

– Meminta barang yg tidak dibutuhkan

– Membeli dengan harga yg dinaikkan

– Membeli barang berkualitas rendah

– Membeli dari pemasok yang tidak diotorisasi

– Komisi (kickbacks)

Menerima barang yang tidak dipesan
Membuat kesalahan dalam penghitungan
Mencuri persediaan
Gagal memanfaatkan diskon pembelian yang tersedia
Kesalahan mencatat dan memasukkan data dalam utang usaha
Kehilangan data
Apakah prosedu-prosedur pengendalian itu ?


– Sistem pengendalian persediaan

– Analisis kinerja pemasok

– Persetujuan permintaan pembelian

– Batasi akses ke permintaan pembelian kosong

– Konsultasi daftar harga

– Pengendalian anggaran

Gunakan daftar pemasok yang disetujui
Persetujuan pesanan pembelian
Pemesanan pembelian sebelum penomoran
Larangan hadiah dari para pemasok
Insentif ke semua rekening pengiriman
Pengendalian akses phhisik
Cek ulang akurasi faktur
Pembatalan pengepakan voucher